Sejarah memberikan lukisan keadaan perkembangan suatu agama,
bangsa, masyarakat, lembaga atau seseorang pada suatu masa atau jaman. Dapat
memahami sejarah berarti mengetahui dan mengerti tentang masa lampau dan
perkembangannya. Sing Jien1 (Nabi) Khongcu bersabda,” Orang yang setelah
memahami Ajaran Lama lalu dapat menerapkannya pada yang baharu, dia boleh
dijadikan guru”
Untuk memahami bagaimana agama
Khonghucu berbicara tentang perempuan, maka wajib pula mengetahui sejarahnya,
sejak dari awal dan perkembangannya sampai disempurnakan. Agama Khonghucu
istilah aslinya disebut Ji Kau, atau Agama Ji, yang berarti Agama
bagi Yang Lembut Hati, yang terbimbing, yang terpelajar dalam ajaran Suci.
Karena peranan besar dari Nabi Konghucu dalam penyempurnaan Agama ini,
maka dunia, di mulai dari dunia Barat lebih banyak menyebutnya Agama Khonghucu
atau Konfucius.
Agama Khonghucu itu mempunyai masa
perkembangan yang sangat panjang sebelum memiliki bentuknya seperti yang
sekarang; apabila dimulai dari jaman Raja Suci Giau naik tahta (2357 s.M.)
sampai wafat Bingcu atau Mencius (289 s.M.), telah meliputi kurun waktu 2068
tahun; maka itu kitab suci Agama Khonghucu dibagi menjadi dua kelompok.
Kelompok pertama yang dinamai Ngo King atau Kitab Suci Yang Lima yang
berasal dari jaman para Nabi sebelum lahir Nabi Khongcu, yang merupakan kitab
yang mendasari mengenai keimanan, peribadahan dalam Agama Khonghucu. Kelompok
ke dua dinamai SUSI atau Kitab Yang Empat, yang langsung
berasal dari Nabi Khongcu dan murid-muridnya sampai kepada Bingcu,
merupakan Kitab Suci Yang Pokok.
v Status Perempuan dalam
Tata aturan kosmis dalam pengertiannya yang sempurna dipandang
sebagai suatu kesatuan dari tritunggal, yaitu langit, bumi dan manusia. Manusia
secara intim berhubungan dengan langit dan bumi, tetapi tidak dalam ranah
berhubungan dengan ritual penghambaan, melainkan untuk belajar dari keduanya,
meniru tingkah laku keduanya, dan dengan demikian akan tercipta sebuah tata
aturan manusia yang mencontoh tata aturan kosmis. Dari sinilah kita dapat
menemukan tiga aspek aturan kosmis yang dipelajari seperti sebelumnya.
Pertama:
langit
dan bumi dipandang secara fundamental sebagai sumber kehidupan; keduanya selalu
membawa kehidupan baru menjadi ada, memelihara dan mempertahankannya. Opimisme
fundamental dari konfusianisme adalah hidup itu baik,--hidup adalah
pemberian paling berharga dari segalanya.
Kedua:
tata
aturan kosmis yang dihargai oleh penganut confusianisme adalah bahwa
segala sesuatu dalam hidup ini saling berhubungan. Tak ada sesuatupun hidup
dalam isolasi. Hubungan antara kangit dan bumi merupakan hubungan paling
penting dan paling efektif di alam semesta ini. Tetapi kedua wujud ini tidak
berfungsi sama; ada hirarki, langit sebagai yang superior, elemen yang kreatif,
berposisi diatas sedangkan bumi sebagai inferior, elemen yang refresif,
berposisi dibawah. Persoalannya adalah efektifitas hubungan yang menyeluruh
bukan pada mana yang superior atau inferior.
Ketiga:
Dari tata aturan kosmis yang mempengaruhi
penganut konfusianisme adalah
kebiasaan yang teratur didalamnya lebih mengedepankan harmonitas daripada
konflik. Diantara masing-masing bagian dipola atau disusun untuk bekerja bagi
kebaikan terhadap keseluruhannya, tetapi pada saat yang sama juga menyadari
hakikatnya sendiri.
Singkatnya bahwa tata aturan kosmis
dalam ajaran konfusianisme dianggap sebagai sumber kehidupan yang bersifat
relasional dan harmonis dalam interaksi antar bagian-bagiannya. Sehingga konsep
ini dianggap penting oleh masyarakat konfusius dalam mengatur masyarakat
manusia. Dari uraian singkat tentang ajaran-ajaran dasar konfusianisme ini,
kita melihat bahwa tata aturan kosmis merupakan sumber wahyu Tuhan dan
merupakan model bagi tata turan manusia, bahwa keluarga dipandang sebagai
pusat komunitas yang suci dan bahwa seluruh manusia, baik laki-laki maupun
perempuan, bekerja dalam setting kontekstual, hirarkis dan koreogarafial yang
tinggi. Hubungan-hubungan dan tingkah laku yang dianggap pantas bagi mereka
diperinci dalam istilah-istilah yang cukup spesifik.
Dalam tata aturan kosmis tentang
segala sesuatu, perempuan diangga sebagai yin sehingga bisa disamakan
kekuatan perempuan identic dengan bumi, dengan segala sesuatu yang rendah dan
inferior. Kekuatan feminine ini dicirikan sebgai mengalah, reseptif dan tunduk,
dan ia memajukan dirinya melalui perasaan tekun.(Wilhelm, Book of Changes,
k’unhexagram (1967) h. 386-88)
dari pola kosmis ini dapat
disimpulkan bahwa posisi perempuan dalam tata aturan manusia pasti rendah dan
inferior seperti bumi, dan bahwa tingkah laku yang layak bagi seorang perempuan
adalah mengalah, lemah, pasif seperti bumi. Bagi laki-laki dipandang superior,
tetapi mereka tidak dapat berbuat apaun tanpa perempuan sebagai komplemen.
v Peran Perempuan dalam Sejarah Sosial
dan Keagamaan Konghucu
Selama pemerintahan dinasti Han (206
SM- 220 M), ketika konfusianisme pertama kali menjadi sebuah ortodoksi,
ada usaha untuk membawa perempuan kepada aliran pokok tradisi dan memberi
mereka karya-karya yang bersifat instruksional khusus dan biorrafi-biografi
perempuan supaya dicontoh. Secara khusus pada masa dinasti Han kita mempunyai
dua buku, Instructions For Women (Nu-Chieh) oleh Pan Chao, dan Biographies
of Exemplary Women (Lieh-nuchuan) oleh Liu Hsiang.
Pan Chao (?-116 M), pengarang Instructions For Women,
adalah seorang perempuan yang sangat terdidik (berpendidikan tinggi) yang
secara umum diakui kecendekiaannya dan intelekualnya. Dia dipanggil untuk
memberi pelajaran bagi perempuan mengenai keluarga kerajaan.
Dia memulai dengan menyinggung praktik kuno kelahiran seorang gadis
yang berarti ada tipe kehidupan yang dia maksudkan untuk dijalani.“pada hari ketiga setelah
kelahiran seorang gadis, para orang tua melakukan tiga kebiasaan: pertama
meletakkan bayi dibawah tempat tidur; kedua, memberikannya pecahan barang tanah
umtuk bermain. Dan ketiga mengumumkan kelahirannya kepada para leluhur dengan
sesaji. ( Nu-Chieh 1 : 2b-3a, Swann 1932, 83).
Tindakan pertama menunjukkan bahwa sebagai perempuan dia harus
bersikap rendah dan tunduk, sederhana dihadapan orang lain, kedua menunjukkan
bahwa dia harus kerja keras dan rajin dalam wilayah domestic, dan ketiga bahwa
dia harus masuk sepenuhnya kepada tanggung jawab istri terhadap para leluhur
keluarga suaminya.
Setelah menjelaskan tiga aspek fundamental tentang lapanga
kerja perempuan sebagai seorang istri, pan chao selanjutnya memfokuskan pada
hakikat ikatan Cperkawinan dan kewajiban istri terhadap suaminya. Dia
sepenuhnya menerima persesuaian kosmologis hubungan antara suami dan
istri dengan langit dan bumi, dan implikasi-implikasi perbedaan peranan secara
seksual. Yaitu suami harus kuat, tegas dan dominan seperti langit, dan istri
harus lemah, mudah terpengaruh, bersikap tunduk seperti bumi. Kewajiban suami
adalah mengatur istri sedang kewajiban istri adalah melayani suaminya. Sesuatu
akan berjalan serba salah apabila salah satunya gagal dalam melaksanakan
kewajibannya terhadap yang lain. Jadi laki-laki yang gagal menggunakan
otoritasnya terhadap istrinya, kesalahnnya sama dengan istri yang tidak setia
melayani suaminya ( Nu-Chieh 1 : 4b-5a, Swann 1932, 84).
Selanjutnya pan chao membahas bagaimana hilannya penghargaan
istri terhadapa suami dan sering kali membawa sikap jijik terhadapa suami, dan
tak henti-hentinya menyalahkan istri, yang membuat marah suami dan selanjutnya
memukul istri. “hubungan yang benar antara suami istri didasarkan pada keharmonian
(keselarasan) Akankah pukulan yang diberikan, bagaimana hubungan perkawinan
dapat dilingdungi (dijaga)? ( Nu-Chieh 1 : 6b, Swann 1932, 84).
Meskipun ini merupakan sikap hati-hati dan formalitas
konfusianisme yang khas dalam hubungan perkawinan, tetapi ada juga, pada istri,
unsur ketaatan yang bersifat cinta kasih. Pan Chao mengutip perkataan kuno;
“memperoleh cinta seorag laki-laki adalah hilangnya tujuan dalam kehidupan
perempuan.” ( Nu-Chieh 1 : 8b, Swann 1932, 87). Meskipun begitu, Pan Chao
memperingatkan perempuan untuk.
Tidak mencoba menyenagkan hati suaminya denga bujuk rayu
yang berlebihan dan rendah, tetapi melalui ketaatan, kesetiaan dan tingkah laku
yang benar. Tingkah laku tersebut diuraikan menjadi empat kategori, atau
aspek-aspek sifat perempuan. Yaitu kebaikan, cara berbicara, tingkah laku dan
kerja yang bersifat perempuan.
Kebaikan yang bersifat perempuan meliputi kesucian dan perawan,
diam dan hati-hati, dan bertindak dengan rasa hormat dan kejujuran dalam segala
hal. Cara berbicara yang bersifat perempuan yaitu hanya berbicara bila
perlu, tidak menfitnah atau mencaci orang lain dan tidak
membosankan orang lain dengan terlalu banyak bicara.
Dapat disimpulkan bahwa jalan keagamaan yang dikemukakan oleh Pan
Chao, meski tidak sejelas seperti dalam teks-teks perempuan dalam kitab suci,
namun dia membawa sebuah aturan baru dalam system keluarga konfusianisme. dia
mengemukakan bahwa perempuan dan laki-laki mempunyai orientasi yang sama dalam
jalan spiritualnya dengan memenuhi dirinya sendiri melalui keterlibatan dalam
kehidupan manusia.
v Reinterpretasi
dan Adaptasi Peran-peran Gender Tradisional dalam Perspektif Konghucu
Setelah Phan Chao menjadi mashyur di kalangan para
cendekiawan mulailah muncul beberapa penulis lainnya yang mencoba menginterpretasi
teks-teks suci dalam ajaran konfusius. Dua diantara tokoh yang paling menonjol
dalam hal ini adalah Ms. Ch’eng ( 700 M) dan Sung JoChao ( 800 M). dua penulis
perempuan ini mengambil keuntungan besar dengan mengikuti gaya Pan Chao dalam
menulis kitab-kitab mereka.
Pada
bagian ini perempuan sudah mulai mencari-cari kesalahan para suami dengan
mempertanyakan beberap sifat laki-laki yang tidak selamanya berada dalam
perbuatan yang baik. Contohnya, dalam The Classics Of Filial Piety yakni
sifat sederhana dan bersahaja sama agungnya dengan yang dikemukakan
dalam Analects for Women yang ditulis seratus tahun kemudian. Sung
Jo-Chao, pengarannya sangat terkesan dengan kehidupan Pan Chao yang hidupnya
dicurahkan untuk pendidikan moral bagi perempuan. Bukunya Analects for
Women kaya akan uraian-uraian yang kongkrit tentang bagaimana mengolah
karakter pribadi seseorang, bagaimana meminpin atau menjalankan rumah tangga
dan bagaimana mengurus hubungan rumah tangga. Nasehat berikut berasa dari bab
pembukaan.
“jagalah tubuhmu tetap bersih dan
kehormatanmu tetap tak ternoda. Jika berjalan, jangan tengokkan kepalamu;
jika berbicara, jangan buka mulutmu lebar-lebar; jika berdiri, jangan kirapkan
pakaianmu. Jika engaku merasa senang, jangan meluapkannya dalam tertawa
terbahak-bahak; jika marah, jangan melepaskannya dalam suara yang keras.
(Nu Lun-yu 2;2b)
Teks tersebut kemudian mulai
membahas persealan beberapa kewajiban dalam rumah tangga seperti memberi makan
dan pakaian, demikian juga keramahan dalam menerima tamu. Ajaran-ajaran
memintal dan menenun baju juga diberikan, sebagaimana juga menyiapakan dan
melatani makanan dengan cara yang pantas. Penjelasan yang mendetail tentang
kewajiban seseirang dalam terhadap orang tuanya, mertuanya, suaminya, dan juga anaknya
diberikan. Kedua teks terakhir dari teks-teks tentang pelajaran-pelajaran bagi
perempuan ini mempunyai nilai yakni telah menyempurnakan pedoman dasar yang
telah diberikan oleh Pan Chao dalam Instructions for Women-nya. Yang menjadikan
nilai tersebut suatu saat lebih mulia dan lebih bersahaja. Peranan moral
perempuan telah terangkat dan rincian praktis untuk memenuhi peranannya
tersebut telah diuraikan.
v Status Perempuan dalam
neo-Konfusianisme
Dengan jatuhnya dinasti Han pada tahun 220 M, konfusianisme
dipudarkan oleh budhisme dan taoisme. Agama ini tidak memainkan peranan
penting dalam wilayah tersebut
sampai kemunculannya kembali dalam bentuk Neo-Konfusianisme pada masa dinasti
Sung (960-1279 M). ketika Neo-konfusianisme muncul, terjadi perubahan besar
yang sangat berpengaruh dalam kehidupan perempuan.
Aliran Neo-konfusianisme yang dihasilkan, pada lahirnya
lebih mengarah pada tradisi keagamaan jika dibandingkan dengan Konfusianisme
awal dan lebih dipusatkan pada persoalan-persoalan matafisik, interiorutas
manusia dan praktik- praktik keagamaan seperti meditasi. Didalam
Neo-konfusianisme sikap kehati-hatian yang besar terhadap keinginan dan nafsu
manusia ini diarahkan kewilayah hubungan manusia, sebagai lamdasan keagamaan
konfusianisme. Ch’eng I (1033-1107), salah satu peminpin Neo-konfusianisme
Sung, merefleksikan kehati-hatian ini ddalam statement berikut yang termuat
dalam antologi tulisan tulisan Neo-Konfusianisme yang paling terkenal, Reflections
on things ata hand (Chin-ssu lu):
“Dalam
hubungan keluarga, orang tua dan anak biasanya menanggulangi prinsip-prinsip
yang benar dengan cinta kasih dan menggantikan kebajikan dengan kebaikan hati.
Hanya orang yang kuat dan tegas yang dapat menolak untuk mengorbankan
prinsip-prinsip yang benar ini demi cinta kasih yang personal. ( Chin-ssu lu 6;
1b; Chang 1967, 173)
Di sini kita melihat elemen baru. Dalam konfusianisme klasik,
seseorang memenuhi kebutuhan dirinya sendiri dengan membenamkan diri dalam
jaringan hubungan manusia. Sekarang terdapat banyak ambivalensi mengenai
hubungan ini, dalam arti bahwa hubungan tersebut hanya menjadi satu sumber
halangan daripada sebuah sumbangan untuk pencarian seseorang akan kebijaksanaan
. Perempuan dapat dipengaruhi oleh perubahan ini, khususnya karena salah satu
ikatan yang paling erat dari seseorang laki-laki penganut konfusianisme adalah
dengan istrinya. Perempuan kemudian dilihat sebagai pihak yang berperan dalam
mengaktifkan keinginan, baik yang sensual maupun efektif. Ada suatu kebutuhan
yang dirasa perlu untuk menjamin bahwa mereka betul-betul mengontrol
keinginannya dan tidak mengganggu atau membalikkan usaha laki-laki untuk maju
menuju kebijaksanaan.
Tepatnya, kesucian menjadi kebaikan
yang penting bagi perempuan pada periode klasik, seperti yang kita lihat dalam
Biographies of Exemplary Women, dan janda ditekankan untuk tetap setia pada
suaminya dengan tidak kawin lagi. Akan tetapi dalam periode klasik tidak
ditemukan apapun yang sesuai dengan tingkat kedalaman kesucian yang
diperlihatkan Neo-Konfusianisme. statement yang paling menakutkan dalam hal ini
dibuat oleh Ch’eng I mengenai pernikahan kembali para janda. Dia ditanya apakah
seorang janda dapat menikah lagi dalam keadaan yang memungkinkan seperti ia
miskin, sendiri, dan hamper mati kelaparan. Ch’eng I menjawab; “teori ini
terjadi hanya karena orang-orang generasi berikutnya takut kelaparan. Mati
kelaparan hanyalah persoalan yang kecil. Tetapi, kehilangan integritas
(kehormatan) bagi seseorang merupakan persoalan yang sangat serius” ( Chin-ssu
lu 6 : 3a, Chan 1967, 177).
Dapat disimpulkan bahwa status perempuan dalam Neo-Konfusianisme
benar- benar berbeda dengan konfusius yang menganut ajaran kosmis. Pada
jaman kosmis perempuan dianggap sebagai yang pasif seperti bumi, selalu
dianggap rendah, kuran cerdas dan sebagainya. Tetapi kebalikannya ketika
Neo-Konfusianisme muncul, banyak penulis-penulis yang menekankan kepada
kehormatan seorang perempuan. Bahwa perempuan itu memainkan peran sentral dalam
kehidupan bermasyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar