Kamis, 11 Desember 2014

responding paper : Relasi Gender dalam Agama Konghucu



            Sejarah memberikan lukisan keadaan perkembangan suatu agama, bangsa, masyarakat, lembaga atau seseorang pada suatu masa atau jaman. Dapat memahami sejarah berarti mengetahui dan mengerti tentang masa lampau dan perkembangannya. Sing Jien1 (Nabi) Khongcu bersabda,” Orang yang setelah memahami Ajaran Lama lalu dapat menerapkannya pada yang baharu, dia boleh dijadikan guru”
            Untuk memahami bagaimana agama Khonghucu berbicara tentang perempuan, maka wajib pula mengetahui sejarahnya, sejak dari awal dan perkembangannya sampai disempurnakan. Agama Khonghucu istilah aslinya disebut  Ji Kau, atau Agama  Ji, yang berarti Agama bagi Yang Lembut Hati, yang terbimbing, yang terpelajar dalam ajaran Suci. Karena peranan besar dari Nabi Konghucu dalam  penyempurnaan Agama ini, maka dunia, di mulai dari dunia Barat lebih banyak menyebutnya Agama Khonghucu atau Konfucius.
            Agama Khonghucu itu mempunyai masa perkembangan yang sangat panjang sebelum memiliki bentuknya seperti yang sekarang; apabila dimulai dari jaman Raja Suci Giau naik tahta (2357 s.M.) sampai wafat Bingcu atau Mencius (289 s.M.), telah meliputi kurun waktu 2068 tahun; maka itu kitab suci Agama Khonghucu dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama yang dinamai Ngo King atau Kitab Suci Yang Lima yang berasal dari jaman para Nabi sebelum lahir Nabi Khongcu, yang merupakan kitab yang mendasari mengenai keimanan, peribadahan dalam Agama Khonghucu. Kelompok ke dua dinamai SUSI  atau Kitab Yang Empat, yang langsung  berasal dari Nabi Khongcu dan murid-muridnya sampai kepada Bingcu, merupakan Kitab Suci Yang Pokok.          
v  Status Perempuan dalam
Tata aturan kosmis dalam pengertiannya yang sempurna dipandang sebagai suatu kesatuan dari tritunggal, yaitu langit, bumi dan manusia. Manusia secara intim  berhubungan dengan langit dan bumi, tetapi tidak dalam ranah berhubungan dengan ritual penghambaan, melainkan untuk belajar dari keduanya, meniru tingkah laku keduanya, dan dengan demikian akan tercipta sebuah tata aturan manusia yang mencontoh tata aturan kosmis. Dari sinilah kita dapat menemukan tiga aspek aturan kosmis yang dipelajari seperti sebelumnya.
 Pertama:
 langit dan bumi dipandang secara fundamental sebagai sumber kehidupan; keduanya selalu membawa kehidupan baru menjadi ada, memelihara dan mempertahankannya. Opimisme fundamental dari konfusianisme adalah hidup itu  baik,--hidup adalah pemberian paling berharga dari segalanya.
Kedua:
tata aturan kosmis yang dihargai oleh penganut confusianisme adalah  bahwa segala sesuatu dalam hidup ini saling berhubungan. Tak ada sesuatupun hidup dalam isolasi. Hubungan antara kangit dan bumi merupakan hubungan paling penting dan paling efektif di alam semesta ini. Tetapi kedua wujud ini tidak berfungsi sama; ada hirarki, langit sebagai yang superior, elemen yang kreatif, berposisi diatas sedangkan bumi sebagai inferior, elemen yang refresif, berposisi dibawah. Persoalannya adalah efektifitas hubungan yang menyeluruh bukan pada mana yang superior atau inferior.
Ketiga:
Dari tata aturan kosmis yang mempengaruhi penganut konfusianisme adalah kebiasaan yang teratur didalamnya lebih mengedepankan harmonitas daripada konflik. Diantara masing-masing bagian dipola atau disusun untuk bekerja bagi kebaikan terhadap keseluruhannya, tetapi pada saat yang sama juga menyadari hakikatnya sendiri.
            Singkatnya bahwa tata aturan kosmis dalam ajaran konfusianisme dianggap sebagai sumber kehidupan yang bersifat relasional dan harmonis dalam interaksi antar bagian-bagiannya. Sehingga konsep ini dianggap penting oleh masyarakat konfusius dalam mengatur masyarakat manusia. Dari uraian singkat tentang ajaran-ajaran dasar konfusianisme ini, kita melihat  bahwa tata aturan kosmis merupakan sumber wahyu Tuhan dan merupakan model  bagi tata turan manusia, bahwa keluarga dipandang sebagai pusat komunitas yang suci dan bahwa seluruh manusia, baik laki-laki maupun perempuan, bekerja dalam setting kontekstual, hirarkis dan koreogarafial yang tinggi. Hubungan-hubungan dan tingkah laku yang dianggap pantas bagi mereka diperinci dalam istilah-istilah yang cukup spesifik.
            Dalam tata aturan kosmis tentang segala sesuatu, perempuan diangga sebagai yin sehingga bisa disamakan kekuatan perempuan identic dengan bumi, dengan segala sesuatu yang rendah dan inferior. Kekuatan feminine ini dicirikan sebgai mengalah, reseptif dan tunduk, dan ia memajukan dirinya melalui perasaan tekun.(Wilhelm,  Book of Changes, k’unhexagram (1967) h. 386-88) dari pola kosmis ini dapat disimpulkan bahwa posisi perempuan dalam tata aturan manusia pasti rendah dan inferior seperti bumi, dan bahwa tingkah laku yang layak bagi seorang perempuan adalah mengalah, lemah, pasif seperti bumi. Bagi laki-laki dipandang superior, tetapi mereka tidak dapat berbuat apaun tanpa perempuan sebagai komplemen.
v  Peran Perempuan dalam Sejarah Sosial dan Keagamaan Konghucu
Selama pemerintahan dinasti Han (206 SM- 220 M), ketika konfusianisme  pertama kali menjadi sebuah ortodoksi, ada usaha untuk membawa perempuan kepada aliran pokok tradisi dan memberi mereka karya-karya yang bersifat instruksional khusus dan biorrafi-biografi perempuan supaya dicontoh. Secara khusus pada masa dinasti Han kita mempunyai dua buku, Instructions For Women (Nu-Chieh) oleh Pan Chao, dan Biographies of Exemplary Women (Lieh-nuchuan) oleh Liu Hsiang.
Pan Chao (?-116 M), pengarang Instructions For Women, adalah seorang  perempuan yang sangat terdidik (berpendidikan tinggi) yang secara umum diakui kecendekiaannya dan intelekualnya. Dia dipanggil untuk memberi pelajaran bagi  perempuan mengenai keluarga kerajaan.
Dia memulai dengan menyinggung praktik kuno kelahiran seorang gadis yang  berarti ada tipe kehidupan yang dia maksudkan untuk dijalani.“pada hari ketiga setelah kelahiran seorang gadis, para orang tua melakukan tiga kebiasaan: pertama meletakkan bayi dibawah tempat tidur; kedua, memberikannya pecahan barang tanah umtuk bermain. Dan ketiga mengumumkan kelahirannya kepada para leluhur dengan sesaji. ( Nu-Chieh 1 : 2b-3a, Swann 1932, 83).
Tindakan pertama menunjukkan bahwa sebagai perempuan dia harus bersikap rendah dan tunduk, sederhana dihadapan orang lain, kedua menunjukkan bahwa dia harus kerja keras dan rajin dalam wilayah domestic, dan ketiga bahwa dia harus masuk sepenuhnya kepada tanggung jawab istri terhadap para leluhur keluarga suaminya.
Setelah menjelaskan tiga aspek fundamental tentang lapanga kerja perempuan sebagai seorang istri, pan chao selanjutnya memfokuskan pada hakikat ikatan Cperkawinan dan kewajiban istri terhadap suaminya. Dia sepenuhnya menerima  persesuaian kosmologis hubungan antara suami dan istri dengan langit dan bumi, dan implikasi-implikasi perbedaan peranan secara seksual. Yaitu suami harus kuat, tegas dan dominan seperti langit, dan istri harus lemah, mudah terpengaruh, bersikap tunduk seperti bumi. Kewajiban suami adalah mengatur istri sedang kewajiban istri adalah melayani suaminya. Sesuatu akan berjalan serba salah apabila salah satunya gagal dalam melaksanakan kewajibannya terhadap yang lain. Jadi laki-laki yang gagal menggunakan otoritasnya terhadap istrinya, kesalahnnya sama dengan istri yang tidak setia melayani suaminya ( Nu-Chieh 1 : 4b-5a, Swann 1932, 84).
Selanjutnya pan chao membahas bagaimana hilannya penghargaan istri terhadapa suami dan sering kali membawa sikap jijik terhadapa suami, dan tak henti-hentinya menyalahkan istri, yang membuat marah suami dan selanjutnya memukul istri. “hubungan yang benar antara suami istri didasarkan pada keharmonian (keselarasan) Akankah pukulan yang diberikan, bagaimana hubungan perkawinan dapat dilingdungi (dijaga)? ( Nu-Chieh 1 : 6b, Swann 1932, 84).
Meskipun ini merupakan sikap hati-hati dan formalitas konfusianisme yang khas dalam hubungan perkawinan, tetapi ada juga, pada istri, unsur ketaatan yang bersifat cinta kasih. Pan Chao mengutip perkataan kuno; “memperoleh cinta seorag laki-laki adalah hilangnya tujuan dalam kehidupan perempuan.” ( Nu-Chieh 1 : 8b, Swann 1932, 87). Meskipun begitu, Pan Chao memperingatkan perempuan untuk.
 
Tidak mencoba menyenagkan hati suaminya denga bujuk rayu yang berlebihan dan rendah, tetapi melalui ketaatan, kesetiaan dan tingkah laku yang benar. Tingkah laku tersebut diuraikan menjadi empat kategori, atau aspek-aspek sifat perempuan. Yaitu kebaikan, cara berbicara, tingkah laku dan kerja yang bersifat perempuan.
Kebaikan yang bersifat perempuan meliputi kesucian dan perawan, diam dan hati-hati, dan bertindak dengan rasa hormat dan kejujuran dalam segala hal. Cara  berbicara yang bersifat perempuan yaitu hanya berbicara bila perlu, tidak menfitnah atau mencaci orang lain dan tidak membosankan orang lain dengan terlalu banyak  bicara.
Dapat disimpulkan bahwa jalan keagamaan yang dikemukakan oleh Pan Chao, meski tidak sejelas seperti dalam teks-teks perempuan dalam kitab suci, namun dia membawa sebuah aturan baru dalam system keluarga konfusianisme. dia mengemukakan bahwa perempuan dan laki-laki mempunyai orientasi yang sama dalam jalan spiritualnya dengan memenuhi dirinya sendiri melalui keterlibatan dalam kehidupan manusia.
                                                                                                                                  
v  Reinterpretasi dan Adaptasi Peran-peran Gender Tradisional dalam Perspektif Konghucu

Setelah Phan Chao menjadi mashyur di kalangan para cendekiawan mulailah muncul beberapa penulis lainnya yang mencoba menginterpretasi teks-teks suci dalam ajaran konfusius. Dua diantara tokoh yang paling menonjol dalam hal ini adalah Ms. Ch’eng ( 700 M) dan Sung JoChao ( 800 M). dua penulis perempuan ini mengambil keuntungan besar dengan mengikuti gaya Pan Chao dalam menulis kitab-kitab mereka.
Pada bagian ini perempuan sudah mulai mencari-cari kesalahan para suami dengan mempertanyakan beberap sifat laki-laki yang tidak selamanya berada dalam  perbuatan yang baik. Contohnya, dalam The Classics Of Filial Piety yakni sifat sederhana dan bersahaja sama agungnya dengan yang dikemukakan dalam Analects  for Women yang ditulis seratus tahun kemudian. Sung Jo-Chao, pengarannya sangat terkesan dengan kehidupan Pan Chao yang hidupnya dicurahkan untuk pendidikan moral bagi perempuan. Bukunya Analects for Women kaya akan uraian-uraian yang kongkrit tentang bagaimana mengolah karakter pribadi seseorang, bagaimana meminpin atau menjalankan rumah tangga dan bagaimana mengurus hubungan rumah tangga. Nasehat berikut berasa dari bab pembukaan.
            “jagalah tubuhmu tetap bersih dan kehormatanmu tetap tak ternoda. Jika berjalan, jangan tengokkan kepalamu; jika berbicara, jangan buka mulutmu lebar-lebar; jika berdiri, jangan kirapkan pakaianmu. Jika engaku merasa senang, jangan meluapkannya dalam tertawa terbahak-bahak; jika marah,  jangan melepaskannya dalam suara yang keras. (Nu Lun-yu 2;2b)
            Teks tersebut kemudian mulai membahas persealan beberapa kewajiban dalam rumah tangga seperti memberi makan dan pakaian, demikian juga keramahan dalam menerima tamu. Ajaran-ajaran memintal dan menenun baju juga diberikan, sebagaimana juga menyiapakan dan melatani makanan dengan cara yang pantas. Penjelasan yang mendetail tentang kewajiban seseirang dalam terhadap orang tuanya, mertuanya, suaminya, dan juga anaknya diberikan. Kedua teks terakhir dari teks-teks tentang pelajaran-pelajaran bagi perempuan ini mempunyai nilai yakni telah menyempurnakan pedoman dasar yang telah diberikan oleh Pan Chao dalam Instructions for Women-nya. Yang menjadikan nilai tersebut suatu saat lebih mulia dan lebih bersahaja. Peranan moral perempuan telah terangkat dan rincian praktis untuk memenuhi peranannya tersebut telah diuraikan.
v  Status Perempuan dalam neo-Konfusianisme
Dengan jatuhnya dinasti Han pada tahun 220 M, konfusianisme dipudarkan oleh  budhisme dan taoisme. Agama ini tidak memainkan peranan penting dalam wilayah tersebut sampai kemunculannya kembali dalam bentuk Neo-Konfusianisme pada masa dinasti Sung (960-1279 M). ketika Neo-konfusianisme muncul, terjadi  perubahan besar yang sangat berpengaruh dalam kehidupan perempuan.
Aliran Neo-konfusianisme yang dihasilkan, pada lahirnya lebih mengarah pada tradisi keagamaan jika dibandingkan dengan Konfusianisme awal dan lebih dipusatkan pada persoalan-persoalan matafisik, interiorutas manusia dan praktik- praktik keagamaan seperti meditasi. Didalam Neo-konfusianisme sikap kehati-hatian yang besar terhadap keinginan dan nafsu manusia ini diarahkan kewilayah hubungan manusia, sebagai lamdasan keagamaan konfusianisme. Ch’eng I (1033-1107), salah satu peminpin Neo-konfusianisme Sung, merefleksikan kehati-hatian ini ddalam statement berikut yang termuat dalam antologi tulisan tulisan Neo-Konfusianisme yang paling terkenal, Reflections on things ata hand (Chin-ssu lu):
“Dalam hubungan keluarga, orang tua dan anak biasanya menanggulangi prinsip-prinsip yang benar dengan cinta kasih dan menggantikan kebajikan dengan kebaikan hati. Hanya orang yang kuat dan tegas yang dapat menolak untuk mengorbankan prinsip-prinsip yang benar ini demi cinta kasih yang personal. ( Chin-ssu lu 6; 1b; Chang 1967, 173)
            Di sini kita melihat elemen baru. Dalam konfusianisme klasik, seseorang memenuhi kebutuhan dirinya sendiri dengan membenamkan diri dalam jaringan hubungan manusia. Sekarang terdapat banyak ambivalensi mengenai hubungan ini, dalam arti bahwa hubungan tersebut hanya menjadi satu sumber halangan daripada sebuah sumbangan untuk pencarian seseorang akan kebijaksanaan . Perempuan dapat dipengaruhi oleh perubahan ini, khususnya karena salah satu ikatan yang paling erat dari seseorang laki-laki penganut konfusianisme adalah dengan istrinya. Perempuan kemudian dilihat sebagai pihak yang berperan dalam mengaktifkan keinginan, baik yang sensual maupun efektif. Ada suatu kebutuhan yang dirasa perlu untuk menjamin bahwa mereka betul-betul mengontrol keinginannya dan tidak mengganggu atau membalikkan usaha laki-laki untuk maju menuju kebijaksanaan.
            Tepatnya, kesucian menjadi kebaikan yang penting bagi perempuan pada periode klasik, seperti yang kita lihat dalam Biographies of Exemplary Women, dan janda ditekankan untuk tetap setia pada suaminya dengan tidak kawin lagi. Akan tetapi dalam periode klasik tidak ditemukan apapun yang sesuai dengan tingkat kedalaman kesucian yang diperlihatkan Neo-Konfusianisme. statement yang paling menakutkan dalam hal ini dibuat oleh Ch’eng I mengenai pernikahan kembali para janda. Dia ditanya apakah seorang janda dapat menikah lagi dalam keadaan yang memungkinkan seperti ia miskin, sendiri, dan hamper mati kelaparan. Ch’eng I menjawab; “teori ini terjadi hanya karena orang-orang generasi berikutnya takut kelaparan. Mati kelaparan hanyalah persoalan yang kecil. Tetapi, kehilangan integritas (kehormatan) bagi seseorang merupakan persoalan yang sangat serius” ( Chin-ssu lu 6 : 3a, Chan 1967, 177).
            Dapat disimpulkan bahwa status perempuan dalam Neo-Konfusianisme benar- benar berbeda dengan konfusius yang menganut ajaran kosmis. Pada jaman kosmis  perempuan dianggap sebagai yang pasif seperti bumi, selalu dianggap rendah, kuran cerdas dan sebagainya. Tetapi kebalikannya ketika Neo-Konfusianisme muncul,  banyak penulis-penulis yang menekankan kepada kehormatan seorang perempuan. Bahwa perempuan itu memainkan peran sentral dalam kehidupan bermasyarakat.




















Tidak ada komentar:

Posting Komentar